Cabai Besar Ditingkat Petani Capai Rp 90 Ribu

IMG 20220610 WA0003
Foto: tumpukan cabai di pasar.(Erwin/intrik)

INTRIK.ID, BANGKA TENGAH – Harga cabai sejak beberapa pekan terakhir dinilai sangat tinggi oleh masyarakat. Bagaimana tidak harga cabai merah dipasaran bisa tembus hingga 110rb.

Hal ini ternyata juga sampai di tingkat petani yang ada di Koba, Bangka Tengah.

M. Syaifudin (37), atau kerap disapa Nanang mengungkapkan, ia mempunyai kebun cabai seluas 0,5 hektar atau sekitar 6000 batang dengan hasil panen terakhir mencapai 3 ton.

Kala itu, ketika pasokan cabai dari luar Provinsi tersendat karena banyaknya petani di pulau Jawa yang gagal panen, dirinya justru tak menemukan kendala apapun.

Bahkan harga jual hasil panen cabai di tingkat petani terbilang sangat menggembirakan.

“Sebenarnya kalau ditingkat petani harga jual di atas Rp25 ribu per kilogram itu sebenarnya sudah bagus, udah dapatlah untungnya,” ucap Nanang saat diwawancarai intrik.id, Selasa (12/7/2022).

Ditambah saat ini harga cabai besar ditingkat petani mencapai harga Rp80 ribu sampai Rp90 ribu per kilogram.

“Kalau bagi petani seperti kami, harga kayak gini tentu harus disyukuri. Tapi kadang-kadang kasihan sama pembelinya,” tambahnya.

Di samping itu, harga pupuk cabai juga tergolong mengalami kenaikan. Meski begitu, kenaikan tersebut tidak terlalu terasa karena masih tertutupi dengan harga jual yang cukup tinggi.

“Sekarang ini baru bisa dikatakan aman kalau harganya 30 ribu sampai 35 ribu per kilogram lah,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Bangka Tengah, Sukandar mengaku bahwa pada dasarnya para petani cabai di Bangka Tengah mampu untuk mencukupi kebutuhan konsumsi pangan masyarakat.

Pasalnya, adanya sebanyak 37 poktan/gapoktan (kelompok tani/gabungan kelompok tani-red) di Bangka Tengah yang menggeluti bidang pertanian cabai yang tersebar di seluruh kecamatan.

“Dari 37 tersebut, masing-masing poktan/Gapoktan setidaknya punya sepuluh orang anggota,” ucap Sukandar.

Berdasarkan data tahun 2019 dan 2020, Sukandar menjelaskan bahwa tingkat pemenuhan cabai merah dari para petani untuk konsumsi masyarakat Kabupaten Bangka Tengah selalu di atas 100 persen.

Sedangkan pada tahun 2021 lalu, angka pemenuhan cabai merah hanya mencapai 90-an persen, begitupun yang akan terjadi pada tahun 2022 ini.

Lanjut Sukandar, turunnya angka pemenuhan cabai dari petani di Bangka Tengah itu tidak terlepas dari faktor banyaknya para petani cabai yang beralih profesi menjadi petani lainnya atau bahkan menjadi penambang.

“Sebenarnya para petani kita bisa saja memenuhi kebutuhan konsumsi cabai di Bangka Tengah. Tapi sayangnya ada bulan-bulan tertentu dimana kondisi produksi cabai kadangkala merosot. Oleh karena itu, impor dari luar pulau juga masih tetap diperlukan,” ujarnya.

Sukandar berujar, turunnya angka pemenuhan stok cabai di Bangka Tengah juga dipengaruhi siklus tanam yang berbeda-beda dari masing-masing petani.

“Memang bulan Mei-Juni kemarin sangat sedikit petani di Bangka Tengah yang sedang dalam masa panen, makanya harganya jadi naik. Tapi bulan September nanti akan ada banyak petani cabai yang panen, sehingga kami prediksikan harganya perlahan-lahan pasti akan turun dan normal kembali,” pungkasnya.(Erwin)