Algafry: Kata Menteri Perdagangan RI Harga Sawit Minimal Rp 1.600

IMG 20220706 WA0003 1
Foto: Bupati Bangka Tengah, Algafry Rahman saat bersama dengan Menteri Perdagangan RI.(ist)

INTRIK.ID, BANGKA TENGAH – Bupati Bangka Tengah Algafry Rahman beserta jajarannya mengadakan pertemuan dengan Menteri Perdagangan, Selasa (5/7/2022).

Ia menjelasakan, poin besar membuat harga anjlok adalah pelarangan ekspor yang membuat penampungan CPO di pabrik penuh dan tak dapat menampung barang baru lagi.

“Hasil yang kita dapatkan tentang persoalan kebijakan pelarangan ekspor CPO beberapa waktu lalu membuat stok minyak sawit mentah melimpah di dalam negeri sehingga mengakibatkan harga TBS anjlok. Ekspor CPO harus ditingkatkan agar perusahaan dapat mengoptimalkan penyerapan sawit petani,” ucap Algafry.

Dari percakapannya bersama Mendag RI tersebut mengungkapkan bahwa jika pelarang ekspor sudah dicabut maka harga TBS akan naik.

“Menurut beliau dan pengusaha yang ada di bateng kalau ekspor lancar maka pabrik-pabrik bisa mengosongkan tangkinya. Kalau tangki sudah kosong, maka perusahaan akan berebut membeli tandan buah segar yang otomatis harga naik,” ucapnya saat dikonfirmasi lewat pesan whatsapp pada, Rabu (6/7/2022).

Ia juga menjelaskan, dari data yang ada persetujuan ekspor CPO tercatat ada sekitar 1,31 juta ton.

“Memang kalau data kementrian perdagangan per 4 juli 2022, persetujuan ekspor CPO, RBD palm oil, RDB palm olein, dan UCO program percepatan melalui skema DMO Simirah tercatat mencapai 1,31 juta ton, dengan angka realisasi sebesar 65,91 persen atau 885.500 ton, sehingga volume yang belum terealisasi sebanyak 434.067 ton,” jelas orang nomor 1 di Bangka Tengah itu.

“Sementara itu persetujuan ekspor CPO, RBD palm oil, RBD palm olein dan UCO program percepatan melalui skema flush out ada sebanyak 1.09 jt ton,dengan persentase realisasi sebanyak 645.327 ton atau setara 49,51 persen sehingga volume yang belum terealisasi sebayak 447.563 ton,” tambahnya.

Ia juga menuturkan menteri perdagangan meminta para pengusaha untuk membeli TBS petani dengan harga Rp 1.600 per kilo.

“Pak menteri juga meminta pabrik-pabrik pengolahan minyak sawit mentah untuk membeli TBS petani pada harga 1.600 per kilogram jika pelarang ekspor sudah selesai dan tangki sudah kosong. Jadi, apabila stok CPO cepat diekspor, pabrik akan membeli TBS lebih banyak,” terang Algafry.

Ia juga menambahkan, percepatan pengurangan tangki akan mempercepat pembelian TBS dan membuat harga semakin baik dengan harga yang diharapkan.

“Kata pak menteri mempercepat pengurangan tangki akan berdampak pada pembelian tandan buah segar, sehingga perusahaan bisa membeli TBS lebih banyak dengan harga dihrapkan ketemu standar paling tidak 2.000, 2.500 atau bahkan bisa mencapai 3.000 per kilogram,” tuturnya.

Ia juga menegaskan, pembelian sawit harus di angka Rp 1.600 sesuai arahan menteri perdagangan.

“Kata pak menteri kalau beli sawit harus minimal harga 1.600,00 ,” tutup Algafry.(Erwin)

Home
Adv
Redaksi
Cari
Ke Atas