Kunjungi Tambak Udang Milenial BPBAP Situbondo, Gubernur Bakal Kirim Peserta Pelatihan IPAL

IMG 20220107 WA0000

INTRIK.ID, BABEL — Gubernur Bangka Belitung, Erzaldi Rosman meninjau langsung tambak udang Milenial Shrimp Farma milik Balai Perikanan Budidaya Air Payau atau BPBAP Situbondo, Jawa Timur, Kamis (6/1/2022).

Kunjungannya bersama Forkopimda Babel ini guna mempelajari tentang IPAL atau Instalasi Pengelolaan Air Limbah di BPBAP Situbondo dari hulu hingga pembuangan limbahnya ke laut.

Selain itu, kunjungan ini juga mempelajari bagaimana penerapan teknologi terbarukan yang disebut oxibam sebagai prototype yang dimiliki BPBAP Situbondo, dengan dikolaborasikan dengan sistem oksimik di Balai tersebut.

Gubernur Erzaldi mengatakan dalam kurun waktu dua bulan kedepan, Pemprov Babel akan mengirimkan peserta pelatihan IPAL ke BPBAP Situbondo. Peserta akan diambil dari pekerja-pekerja yang bekerja di tambak udang yang sudah berjalan di Babel.

Selain itu, Sumber Daya Manusia (SDM) di Balai Tanjung Rusa Belitung yang akan menjalankan budidaya ikan kerapu, serta Balai Tanjung Kerasak di Bangka yang akan menjalankan budidaya udang vaname juga akan dikirim untuk pembelajaran IPAL.

Erzaldi juga mengatakan bahwa usaha tambak udang ini tidak terlepas dari kontinuitasnya. Jika tidak memperhatikan kebersihan air dan teknik budidaya udang yang baik, maka akan kehilangan momentum, dan jika air sudah rusak, itu dapat dipastikan produksi tidak dapat berkembang.

“Butuh waktu lama dan biaya dalam pengelolaannya,” tegasnya.

Sementara’itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Babel, Agus Suryadi mengatakan kesinambungan dari tambak udang yang telah dibangun oleh para pelaku usaha agar dapat berkelanjutan, sehingga mengalami kenaikan baik dari segi produksi maupun peningkatan pengetahuan pengelolaan tata kelola yang baik.

“Jangan sampai hanya mengejar produksi saja, tetapi bagaimana tata kelola yang benar dan baik,” ungkap Agus.

Kadis LHK Babel, Marwan berharap agar para pelaku usaha tambak membuat IPAL yang sesuai standar, demi kebaikan keberlangsung tambak mereka, serta lingkungan sekitar. Dari hasil pantauannya setelah melihat langsung contoh IPAL yang baik dan benar, akan ia sampaikan ke dinas-dinas terkait.

“Air yang ada harus dikelola dengan baik, dengan sistem IPAL,” jelasnya.

Selain itu, kata dia, pengelolaan pembuangan limbah di media penerima IPAL yaitu air laut juga disarankan memanfaatkan tanaman mangrove untuk membantu menyerap racun yang masih tersisa dari filter IPAL.

“Inlet (masuknya air) dan outlet (keluarnya air) harus baik. Pelaku usaha kita di Babel, masih banyak yang belum baik dalam membuat IPAL. Sehingga masih banyak udang-udang yang mati,” jelasnya ini

Dengan pengelolaan sirkulasi air yang kurang baik, berimbas pada hasil produksi yang tidak maksmimal, seperti matinya udang karena keracunan dan dapat merusak ekosistem air laut.

“Kami studi tiru disini, balai ini merupakan balai yang dapat ditiru sistem-sistemnya yang telah diuji coba disini,” tambahnya.

Kepala Unit MSF BPBAP Situbondo Pihak BPAP Situbondo Wendy yang mendampingi peninjauan Gubernur di IPAL yang mereka kelola, mengatakan saat ini pihaknya sedang berproses _Memorandum of Understanding_ (MoU) dengan Pemprov Babel untuk melakukan pendampingan proses pelatihan untuk kedua balai di Babel agar berjalan sesuai standar.

“Kedua balai ini akan menerima pelatihan masyarakat yang tertarik membangun tambak udang berskala rumahan,” tutupnya. (red)