Kebutuhan Benur Vaname di Babel Capai 130 Juta Ekor Per Bulan

IMG 20220128 WA0006 1

INTRIK.ID, BABEL – Terobosan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk meningkatkan perekonomian di sektor pengembangan budidaya udang vaname semakin terbuka.

Apalagi dengan adanya indukan langsung dari Kona Bay, perusahaan budidaya air terbesar di Hawaii, Waimea, negara bagian Amerika Serikat, dapat menjadi peluang produksi yang baik.

“Kami baru saja selesai melakukan pelepasan induk baru untuk menghasilkan benur yang didatangkan dari Kona Bay langsung. Sekarang benur udang vaname sudah bisa diproduksikan langsung di BPI Tanjung Kerasak,” ujar Gubernur Erzaldi, saat pelepasan induk udang vaname bersama mitra yakni PT Prima Benur Bangka (PBB), di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Pemuliaan Ikan (BPI) Tanjung Kerasak, Kabupaten Bangka Selatan, Jumat (28/1/22)

Pemprov Babel melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), diungkapkan gubernur, akan menjajaki kerja sama yang panjang dengan PT Prima Benur Bangka.

Kerja sama ini sekaligus untuk memenuhi kebutuhan benur udang vaname yang sangat tinggi di Babel. Saat ini, berdasarkan informasi yang diterima Erzaldi dari produsen benur, kebutuhan telah mencapai 130 juta ekor per bulan.

“Kerja sama ini terus berlanjut karena kebutuhan benur udang vaname sangat tinggi untuk kita suplai, sementara sampai sekarang produksinya baru 25 juta (ekor). Artinya, baru sekitar 15 persenan, jadi sangat-sangat perlu,” ujarnya.

Sementara itu, Komisaris PT Prima Benur Bangka Suseno, mengakui jika masuknya induk baru dari Hawaii ini akan memudahkan pihaknya bersama BPI Tanjung Kerasak untuk memenuhi kebutuhan pasar. Terlebih, hasil produksi mereka yaitu benur vaname F1 (turunan pertama), sudah bersertifikat yang dikeluarkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

“Artinya, dengan adanya datang induk baru, produksi ini bisa tiap hari, kontinyu terus. Kemudian, hasil produksi kita standar nasional, sudah mendapat sertifikat dari KKP. Itu maksudnya secara budidaya sudah baik sesuai aturan. Harapannya, dengan standar kualitas yang kita jaga, para penambak tidak ragu lagi, karena induknya impor,” ujarnya. (red)