Tidak Jelas Dana Kompensasi, Nelayan Cabut Dukungan CV TIN

IMG 20211111 095551 scaled

BANGKA. SUNGAILIAT. INTRIK.ID – Puluhan nelayan Kolek – kolek Lingkungan Nelayan I Sungailiat akan mencabut dukungan terhadap CV. Timah Indo Nagari ( CV. TIN ) yang melakukan aktifitas Ponton Isap Produksi ( PIP ) di sekitar Muara Tengkorak.

Pencabutan tersebut lantaran tidak sesuai dengan kesepakatan antara CV.TIN dan nelayan, Beberapa waktu yang lalu.

Sarmi perwakilan nelayan kolek – kolek Lingkungan Nelayan I Sungailiat saat Konferensi Pers, Kamis ( 11/11/2021) siang mengatakan belum ada kejelasan soal dana kompensasi dimaksud.

“Pertama kita dibawa Adi Putra soal rencana CV. TIN bekerja di Muara Tengkorak. nah saya hubungi teman – teman seperofesi sebanyak 50 orang. Pertemuan dua kali di rumah makan pangeran, kami memberi dukungan yang diminta CV. TIN,” kata Sarmi.

Menurut Sarmi dari hasil kesepakatan tersebut CV. TIN akan mengeluarkan dana kompensasi namun belum ada kejelasan.

“Dalam kesepakatan itu CV. TIN bekerja diatas 50 derajat dari pinggir pantai, kami nelayan menyetujui karena tidak mengganggu keluar masuk nelayan. Dan CV. TIN akan memberikan kompensasi untuk nelayan 10.000/kg, Sosial 5000/kg, Pokja 5000/kg. Namun sampai sekarang tidak ada kabar,” ungkap Sarmi.

Sarmi juga menyampaikan kalau ada kabar dukungan yang mereka berikan, dibatalkan sepihak.

“Kompensasi tidak jelas, malah kami dapat kabar dukungan teman – teman sebanyak 50 orang dibatalkan sepihak oleh CV. TIN tanpa ada pemberitahuan kenapa dukungan dibatalkan. Kami akan cabut dukungan dan akan kami sampaikan dengan pihak PT.Timah,” ujar Sarmi Kesal.

Sementara itu Direktur CV.TIN Vega Erora saat dihubungi INTRIK.ID mengatakan Kompensasi tidak dilaksanakan lantaran mereka bekerja diluar wilayah kesepahaman.

“Kesepaham kompensasi itu akan dilaksanakan apabila CV. TIN bekerja dibawah radius 50 derajat. Nah ini sampai hari ini CV. TIN bekerja diatas 50 derajat dari tepi pantai karena ditolak nelayan katir. Kita bekerja diatas 50 derajat atas persetujuan nelayan dua. Makanya dana kompensasi itu tidak dilaksanakan karena CV.TIN bekerja saat ini tidak diwilayah kesepahaman,” terangnya.

Menyikapi hal tersebut, Adi Putra warga Lingkungan Nelayan I Sungailiat, sebagai fasilitator menyanyangkan sikap CV. TIN.

“Awalnya CV. Tin dapat SPK DU 1548 Air Kantung, karena mereka resmi direstui PT. Timah, kita ikut dukung bangun ekonomi. Mereka minta tolong, sebagai teman kita tolong, saya selaku warga lingkungan nelayan satu memfasilitasi sosialisasi CV. TIN ingin bekerja di SPK dimaksud. Dengan niat baik saya hubungi para nelayan yang sering lewat muara tengkorak sebanyak 50 nelayan. Karena ada komitmen, pertemuan sosialisasi dua kali di rumah makan pangeran, Disitu dibahas antara CV. TIN dan nelayan,”

Sebagai fasilitator Adi Putra merasa tidak nyaman dengan nelayan dimaksud, karena dana Kompensasi dari CV. TIN tidak ada kejelasan.

“Hasilnya CV.TIN dan nelayan ada kesepakatan dimana CV TIN akan mengeluarkan kompensasi RP. 20.000/ kg basah. 50 derajat diatas bibir pantai
Yang penting jangan mengahalangi jalur nelayan. Dukungan nelayan disampakai akan dibentuk pokja yang isinya para nelayan. Namun pokja dibubarkan sepihak lantaran ada nelayan yang usir CV TIN bekerja dibawa derajat disepakati. Namun pihak CV. TIN tidak pernah memberitahu soal pembatalan sepihak itu. Saya selaku fasilitator dianggap nelayan menggelapkan dana kompensasi itu,” tutupnya.