Polri Berikan Kebebasan Peserta Mural Berekspresi

IMG 20211030 WA0038

JAKARTA. INTRIK.ID – Ratusan peserta mural diberikan kebebasan berekspresi oleh Mabes Polri. Para pelukis dinding itu diberikan kebebasan dalam Mural Festival HUT Humas Mabes Polri Ke 70, serta semangat hari sumpah pemuda. Kegiatan berlangsung di lapangan Bhayangkara, Kompleks Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Sabtu (30/10/2021).

Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengatakan awalnya peserta sedikit, mereka ( Peserta mural – red ) takut identitas diketahui.

“Tadi Kadiv Humas sampaikan bagaimana start awal bahwa pada saat dibuka yang mendaftar hanya 18. Karena ada isu bahwa nanti kalau peserta kemudian ikut, ini cara polisi untuk tahu identitas peserta, dan nanti mereka berpikiran bisa terkuak dan pasti ditangkap. Awalnya muncul pemikiran peserta begitu,” ungkapnya.

Setelah disampaikan para peserta diberikan kebebasan menuangkan karyanya, jumlah peserta melonjak naik.

“Mural Festival ini dalam rangka memperingati HUT 70 Humas Polri dan Hari Sumpah Pemuda. Tadinya jumlah peserta sedikit, dikarenakan mereka berfikir melalui festival identitas diketahui. Namun setelah disampaikan bahwa Polri beri kebebasan menuangkan karyanya baik bersifat positif maupun negatif, akhirnya para pendaftar melonjak hingga 803 orang. Setelah disaring di tingkat Polda jajaran maka sebanyak 80 tim mural diberi kesempatan untuk memamerkan karyanya di Lapangan Bhayangkara,” kata Listyo Sigit Prabowo.

Lebih lanjut Kapolri Listyo Sigit Prabowo menyampaikan konteks kebebasan berekspresi sudah diatur dalam UU 1945.

“Sesuai Undang – Undang Dasar 1945 pasal 28, juga ditegaskan dalam UU nomor 9/1998 tentang kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum. Berdasarkan aturan inilah, menjadi pembeda pada saat era sebelum reformasi dan pasca reformasi, yang memberikan kebebasan bagi masyarakat menyampaikan ekspresi dan aspirasinya,” jelasnya.

Menyangkut hal tersebut Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengatakan, sebagaimana arahan Presiden Jokowi bahwa Indonesia adalah negara yang demokratis dan sangat menghargai kebebasan berekspresi maka Polri memegang teguh apa yang diarahkan oleh Presiden.

“Bhayangkara Mural Festival 2021 ini adalah bukti bahwa kami menghormati kebebasan berekspresi. tema dalam festival mural khusus memberikan ruang kritik bagi institusi Polri. hal itu digunakan Polri untuk melihat feedback dari persepsi masyarakat tentang Polri. Masukan positif menjadi motivasi, sementara negatif menjadi bahan refleksi, instrospeksi untuk merubah menjadi lebih baik,” ujarnya.

Orang nomor satu Mabes Polri itu, menantang para peserta mural menuangkan karyanya, untuk melakukan kritik bagi Polri. Hal ini, ditegaskan Kapolri untuk menepis isu kalau Polri melakukan pemetaan terhadap muralis.

“Jadi di kesempatan ini kita sampaikan kepada rekan-rekan muralis, nanti yang gambarnya bagus, tentunya akan ada dewan juri khususnya tentang kritik Polri, kalau itu gambarnya paling pedas itu akan juga akan kami terima, dan saya jamin, yang berani menggambar itu akan jadi sahabatnya Kapolri jadi temannya Kapolri,” tekan Listyo Sigit Prabowo.

Menurut Kapolri adanya mural kritik, merupakan bentuk aspirasi masyarakat memberikan gambaran tentang institusi Polri saat ini. Sehingga, nantinya akan dilakukan evaluasi dan pembenahan internal, guna menjadi lebih baik dan diharapkan masyarakat lagi.

“Kami institusi Polri menginginkan bahwa masyarakat bisa memberikan gambaran kepada kami tentang bagaimana persepsi masyarakat tentang Polri. Sehingga kami tiap hari bisa membenahi institusi, sehingga kita bisa siapkan institusi ini, personel-personel kami jadi lebih baik. Jadi Polri yang dipercayai publik, Polri yang dicintai masyaraka. ini adalah wujud dari Pemerintah dan Polri tidak anti-kritik yang membangun dari masyarakat,” pungkasnya.

Meski begitu, untuk memberikan kebebasan berekspresi di ruang terbuka harus tetap menjaga norma dan aturan serta nilai yang ada. Misalnya dengan menyalurkan di ruang-ruang telah disediakan seperti yang dilakukan oleh Polda Jawa Barat dan Jawa Tengah, dengan menyiapkan ruang mural.

“Ide ini muncul dari diskusi, karena muncul peristiwa 404 Presiden Jokowi Not Found. Kemudian ada aksi di lapangan yang menjadi polemik, ada yang menghapus, ada juga yang membiarkan. Jadi kali ini kita sampaikan bahwa Pemerintah, Polisi tidak anti-kritik,” tegas Kapolri.

Kapolri pun mengapresiasi partisipasi masyarakat yang menyambut baik kegiatan ini. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada peserta telah menyampaikan kritikan yang membangun untuk Polri.

“Tentunya ini jadi kebanggaan kami bahwa ternyata kawan-kawan tidak takut dan berani tampil. Gambar yang positif, negatif, silahkan. Kami akan menghargai betul. Sekali lagi, kritik, memberi masukan, positif, negatif juga boleh, akan jadi teman pak Kapolri,” tutur Kapolri.

Dalam kesempatan ini, Kapolri juga menyempatkan secara langsung menyapa secara virtual dengan Polda Jawa Barat, Gubernur Jawa Tengah, Mahasiswa IPB, Polda Jawa Tengah, perwakilan dari Gorontalo, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).